• Serbuan merek asing di produk fashion belakangan kian gencar. Mal papan atas menjadi pangkalan merek asing untuk menyerbu pasar Indonesia. Di tengah kepungan merek asing seperti Zara, Uniqlo, Cotton Ink, H&M, dan lainnya, PT Warna Mardhika, produsen busana merek Hammer, Coconut Island, dan Nail tidak gentar menghadapi. Omsetnya naik 20% per tahun. Apalagi persaingan dengan merek kelas dunia itu tidak head to head dengan produk yang dihasilkan WM. Bagaimana strategi perusahaan ini menghadapi persaingan bisnis fashion? Eddy Hartono, Presdir Warna Mardhika memaparkannya dalam wawancara dengan Witantri Nurfadilah. Berikut nukilan wawancaranya:

    Bagaimana prospek bisnis fashion? bisnis_fashion

    Prospek bisnis fashion tahun depan cukup menjanjikan. Manusia itu tidak terlepas dari industri fashion, apalagi wanita. Wanita kan lebih cenderung belanja lebih banyak dan fashionable. Kalau pria hanya beberapa kali membeli pakaian, tapi wanita akan selalu mengikuti tren. Dan yang kami harapkan para wanita tetap belanja produk Indonesia. Selera fashion dan gaya hidup  pria dan wanita berbeda. Dunia gaya hidup selalu berkembang, selama orang butuh pakaian demi menunjang gaya hidup, di situ pasti kami ada.

    Kami juga melihat kecenderungan dunia gaya hidup sekarang lebih menengah-atas, yang mana mereka membelanjakan uang lebih banyak dengan mendapat kualitas yang bagus. Jadi, kami rasa prospek bisnis fashion tahun depan sangat menjanjikan. Baik di Jakarta  maupun di luar kota, semua memiliki potensi dan peluang bisnis yang bagus.

    Bagaimana pengaruh penurunan nilai tukar rupiah terhadap bisnis ini?

    Pada dasarnya kami tidak terpengaruh oleh penurunan nilai tukar rupiah terhadap US$ pada bisnis kami. Yang jelas kami lebih fokus untuk urusan fashion, kami terus inovasi soal produk dan kualitas, kalau lengah sedikit bisa lewat. Kami lihat banyak merek yang naik dan masuk pasar Indonesia, tapi tahun 2014 merek itu malah bisa turun.

    Bagaimana Anda menilai kehadiran merek dari luar negeri di bisnis fashion, seperti Uniqlo, H&M dan sebagainya?

    Mereka merek yang sangat kuat di dunia, tapi sama saja bohong kalau penduduk kita tidak pernah ke luar negeri. Kebanyakan orang kita kan tidak tahu apa itu merek terkenal dari luar negeri. Merek itu berkembang dari mulut ke mulut saja. Kami lihat bisnis fashion asing juga bermain di kelas high-end, sehingga yang bisa menjangkau juga orang berpenghasilan menengah-atas.  Sebenarnya, saya miris melihat orang Indonesia yang tergiur dengan label murah merek asing itu. Padahal, mereka tidak memperhatikan kualitas. Hanya strategi pemasaran yang terus digenjot guna menarik perhatian pembeli.

    Mengapa Anda berani berujar seperti ini? Adakah pengalaman menarik?

    Saya pernah terkaget-kaget, saya jalan ke sebuah mal besar di Jakarta. Merek asing yang dipajang itu pernah saya lihat di Jepang dua tahun lalu. Sudah barang lama, dijual di sini harganya dumping sale. Barangnya jelek, tidak ada yang bisa dibanggakan. Bahannya dari China semua. Jelas mereka menjual murah karena barangnya ada yang bagus dan ada yang jelek.

    Menurut Anda, apakah pasar fashion di Indonesia untuk merek asing memang besar?

    Memang sangat besar. Inilah yang sedang kami perjuangkan. Saya yang juga sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia memperjuangkan dan kembali mengacu pada perundang-undangan Indonesia. Sebagai gambaran, merek asing di sini kan ada di toko besar. Merek produk luar malah dapat sewa yang cenderung lebih murah, sedangkan kami merek asli Indonesia, jujur saja, kami terus komplain kepada mal, mengapa memberikan sewa pada produk Indonesia dengan harga yang berbeda.

    Selain itu, kami juga mempertanyakan kenapa mereka lebih senang memasukkan merek luar. Merek lokal tetap ada tapi jika Anda lihat, kami selalu berada di lantai atas mal. Menurut kami, ini sangat tidak adil. Kami terus memperjuangkan dengan Pak Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan – Red.), agar merek lokal harus diperhatikan. Kami memperjuangkan 80% komponen lokal harus diproduksi di sini juga. Contohnya di China, merek apa pun masuk ke China, tapi dengan syarat produksinya juga di China. Indonesia berani tidak seperti China? Merek-merek asing ternama itu masuk mal yang high-end. Kalau yang menengah kan mereka tidak mau karena memikirkan citra.

    Bagaimana Hammer, sebagai merek lokal, bersaing dengan merek asing? Strategi bisnis apa yang akan dijalankan?

    Hammer ini fokus target pasarnya ke level medium. Maka, kami dengan merek asing tersebut tidak head to head. Kami lebih menancapkan kuku dulu di pulau-pulau Indonesia. Strategi kami sekarang hanya ekspansi ke luar kota. Kami ada di setiap pulau: Ambon, Kendari, Sumatera, dan lainnya. Kami selalu berinovasi dalam busana dan dalam konsep gerai ataupun toko kami.

    Sudah berapa banyak gerai Hammer di Indonesia? Anda membidik pasar yang mana dan target ke depan?

    Total dari 110 gerai, di Jakarta ada 30. Kami kebanyakan di Jabodetabek dengan target mal kelas B. Tahun depan kami berencana membuka 15-20 toko. Apalagi pangsa pasar daerah sekarang bagus. Orang bisa bangun mal. Bahkan baru-baru ini dalam tiga hari kami membangun lima toko di luar kota: di Medan tiga dan Banjarmasin dua.

    Berapa jumlah pegawai, target produksi Anda dan kapasitas produksinya?

    Total setahun 8 ribu lusin dapat dihasilkan. Karyawan toko kami 900 orang, termasuk sales promotion girl. Di pabrik saja hampir 2 ribu orang. Ada tim desainer, konsultan dari Inggris. Tiap bulan kami selalu melakukan inovasi fashion. Kalau sudah laku ya sudah. Kami tidak pernah menargetkan, tapi yang pasti hampir 200 lusin habis. Gerai kami ada 110 unit, sedangkan konter yang ada dalam mal (termasuk di Sogo dan Metro) ada 200-an.

    Lalu bagaimana dengan koleksi busana, proses kreatifnya sendiri dan omset pasarnya? Apa yang paling laku?

    Kami mengikuti karakter pembeli. Dulu memang 60% pria, 40% wanita, tapi sekarang persentasenya 50:50. Desain kami sangat luar biasa dengan target usia untuk Hammer berkisar 20-30 tahun. Untuk Coconut Island lebih ke T-shirt dan anak muda. Kalau Hammer, mulai dari polo shirt, blus dan jins ada semua.

    Yang paling laku adalah polo shirt dan ladies blouse. Produksi juga terus ditambah apalagi kalau ada momen, seperti Lebaran, liburan, Natal. Kalau untuk Coconut Island kebanyakan T-shirt dengan permainan print. Sengaja kami membuat merek beda-beda dan tidak saling tabrakan. Kalau untuk Nail, kami membidik kelas eksekutif muda, yang sekali belanja bisa Rp 500-600 ribu ke atas. Sebenarnya setiap bulan kami punya tema, kami sudah ada konsep, dan tiap bulan meeting. Proses kreatif memakan waktu dan dipersiapkan 6 bulan sebelumnya.

    Berapa target pertumbuhan tahun 2014 dan adakah kenaikan harga?

    Harga kami belum naik. Kalau naik paling 10%-15%. Pertumbuhan bisnis kami targetkan 20%. Pertumbuhan bisnis kami tahun 2013 mencapai 21,5% dengan bahan baku semua lokal.

    Bagaimana dengan branding strategi 2014 dan apa saja keunggulan yang ditonjolkan untuk bersaing?

    Kami mengikuti Indonesia Fashion Week 2014. Akan ada booth untuk branding, ada beberapa promosi dan fashion show. Kami juga masuk ke majalah. Saya melihat, kalau toko sudah kuat, berarti branding-nya ada di tokonya. Kalau cuma pasang iklan, orang pasti lupa. Jadi kami bermain di visualisasi toko. Toko kami itu selalu mewah, unik, sesuatu yang beda dan gampang diingat orang. Kalau cuma sekadar di cetak, apa yang menarik dan jadinya sama saja. Percuma branding terus, tapi toko gitu-gitu saja dan tidak menarik. Kalau tidak ada sesuatu yang baru, orang pasti akan malas datang. Tampilan Hammer tiap bulan berubah-ubah. Seperti toko kami menggunakan gebyok, bergaya klasik, dengan maneken yang posenya variatif. Semua ini kami desain sendiri. Harga produk kami tidak terlalu murah dan tidak terlalu mahal. Cukup terjangkau. Kalau terlalu murah nanti disangka made in Tanah Abang.

    Adakah catatan menarik untuk pengusaha fashion atau ritel fashion ke depan?

    Saya pikir kita semua khususnya pelaku industri tetap harus optimistis, harus terus berinovasi, dan ciptakan pasar. Jangan pesimistis. Semangat harus tetap ada berapa pun nilai US$. Orang bisa hemat makan, tapi untuk penampilan harus tetap dijaga. Gaya hidup itu perlu. Mengenai rencana ekspansi pasar luar negeri, belum saya lihat. Paling rencana bawa merek ke Malaysia. Tapi saya pikir di Indonesia pasarnya juga cukup besar. Harusnya kami fokus di negeri sendiri sudah cukup dan besar.

    SEMOGA BERMANFAAT.

    ( Artikel Sumber dari : http://swa.co.id/ceo-interview/bisnis-fashion-tidak-ada-matinya. )

    Posted by Afgan @ 5:15 am

    Tags: , , , ,

  • Comments are closed.